Publik figur adalah istilah yang sudah tak asing lagi ditelinga kita.
Biasanya yang disebut dengan publik figur adalah para pesohor seperti
artis dan pejabat. Namun ada paradigma keliru pada masyarakat yang
menyangka seorang publik figur adalah seseorang yang bisa dijadikan
contoh bahkan panutan. Padahal pemikiran demikian adalah kesalahan
besar. Jadi sebenarnya apa arti dari publik figur dan apa maksudnya?
Publik figur adalah istilah yang diambil dari bahasa Inggris yakni "public figure" , terdiri atas kata "public" dan "figure". Namun jika diartikan setiap katanya ke dalam bahasa Indonesia, public figure memiliki banyak arti.
Public bisa berarti publik, umum, masyarakat, umum, rakyat, khalayak, sedangkan kata figure
bisa berarti angka, tokoh, sosok, gambar, figur, patung, bilangan,
contoh, bentuk badan, rupa, pigura, perawakan, sikap atau harga.
Dalam bahasa asing kata figure (dalam ulasan umum/bukan suatu
bidang) bila berdiri sendiri lebih sering digunakan untuk menyebut
sosok, tokoh dan contoh ketimbang arti lain yang disebutkan di atas.
Sedangkan kata public jelas, lebih condong digunakan untuk ruang lingkup khalayak banyak (umum) alias masyarakat.
Sehingga public figure jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia
arti yang paling kuat adalah untuk "tokoh masyarakat". Nah,
permasalahannya adalah kata "tokoh masyarakat" di Indonesia lebih
cenderung digunakan untuk menyebut seorang pemuka adat, mentri, kepala
suku dan sejenisnya yang bukan artis!
Lalu kenapa di Indonesia kata itu juga digunakan untuk menyebut artis?
Tak lain tak bukan adalah karena di Indonesia kita sesungguhnya lebih
condong untuk menggunakan public figure dibanding publik figur. Jika di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasinya mereka bisa langsung paham public figure
yang disebutkan dalam sebuah pembahasan memiliki arti apa. Namun harus
diakui memang, di dunia hiburan internasional sekalipun istilah public figure untuk menyebut artis memang seolah sudah dibakukan. Sayangnya dalam bahasa Indonesia justru menimbulkan keraguan.
Masalah lain adalah kata figure yang juga bisa berarti contoh
kadang cenderung digunakan orang untuk mengartikan publik figur sebagai
contoh masyarakat. Terjemahan yang salah? Tentu tidak! Pertanyaannya,
apakah pejabat yang korupsi, artis yang memiliki skandal juga pantas
disebut sebagai contoh apalagi panutan? Namun sayangnya masyarakat bisa
saja mengartikannya demikian.
Mengadaptasi istilah bahasa asing untuk kemudian digunakan dalam bahasa
Indonesia seharusnya tidak diboleh sembarangan, mengingat belum semua
masyarakat kita yang memiliki bahasa Inggris yang baik dan benar. Karena
akan berbahaya bila ternyata masyarakat justru salah dalam
mengartikannya. Terlebih jika penggunaannya secara lisan bukan tulisan
(seperti di acara tv).
Sehingga sebaiknya penggunaan istilah publik figur terlebih secara lisan sebaiknya tidak perlu digunakan pada masyarakat awam. Ada banyak kata dalam bahasa Indonesia yang bisa dijadikan gantinya seperti selebritis atau pesohor.
Sehingga sebaiknya penggunaan istilah publik figur terlebih secara lisan sebaiknya tidak perlu digunakan pada masyarakat awam. Ada banyak kata dalam bahasa Indonesia yang bisa dijadikan gantinya seperti selebritis atau pesohor.
Hal ini seharunya menjadi tanggung jawab dan lebih diperhatikan oleh pihak media baik media cetak maupun elektronik.
Bahasa Indonesia sudah diakui dunia sebagai bahasa yang "sederhana" namun "kaya". Banyak kata dari bahasa kita diaplikasi dari bahasa daerah dan ada banyak bahasa daerah di Indonesia. Jadi kenapa harus sok-sok`an berbahasa Inggris jika hanya menimbulkan kesalahan dalam mengartikan bahkan memahaminya?
Ingat, kata-kata bukan sekedar ucapan tapi kata-kata bisa menjadi
senjata yang dapat mempengaruhi kita dari alam bawah sadar. Sudah banyak
yang membuktikannya bukan? Jadi jangan anggap bahasan ini sepele.
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !